• Daftar Isi

  • Kategori

  • Ormas Nasional Demokrat

Corak Rakyat Berbudaya

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat heterogen sehingga sanagat tepat kalau bangsa Indonesia mengambil semboyan bhineka tunggal ika. Walaupun berbeda suku, adat, budaya, agama dan sebagainya, tetapi tetap satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Sehingga semboyan itu hingga kini menjadi orientasi pembangunan bangsa Indonesia yang bertujuan mencapai masyarakat Indonesia yang adil dan makmur lahir batin. Masalahnya, mengapa sampai saat ini pembangunan Bangsa Indonesia tetap lamban meski ada peningkatan pada beberapa lahan pembangunan? apa yang salah dengan Indonesia? Apakah gara-gara kebhinekaan rakyat Indonesia!

Perbandingan kualitas dan kuantitas masyarakat Indonesia masih menjadi penyebab pembangunan bangsa kita tersendat-sendat. Disamping unsur pembangunan seperti ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan sebagai bagian penting dari kelangsungan suatu pembangunan bangsa dan Negara. Namun kembali kepada karakter bangsa yang menjadi perhatian, pluralisme yang mengimplikasikan pengakuan terhadap kebebasan beragama, berpikir, mencari informasi dan toleransi. Pluralisme memerlukan kematangan kepribadian seseorang dan sekelompok orang. Lawan pluralisme adalah intoleransi yang menimbulkan paksaan dalam hal agama, kepicikan ideologi yang mau memaksakan pandangan kepada orang lain.

Berbicara tentang kualitas dan kuantitas masyarakat Indonesia adalah bicara tentang penduduk Indonesia. Berbicara masalah kependudukan juga juga berbicar tentang jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk, penyebaran penduduk, komposisi penduduk dan sumber daya penduduk yang meliputi juga tingkat pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial budaya. Bagi Bangsa Indonesia saat ini, masalah kualitas dan kuantitas bangsa menjadi penentu utama keberhasilan pembangunan Negara kita. Bersyukurlah kita saat ini sedikit demi sedikit sudah mulai berkembang derajat kehidupan masyarakat jika dibandingkan dengan masa penjajahan dan pasca revolusi. Akan tetapi, yang jadi masalah juga adalah mengapa penduduk kita yang kuantitasnya sangat besar belum bisa mewujudkan bangsa yang besar?

Ternyata harus kita akui bahwa meski penduduk kita jumlahnya besar belum bisa menjadi jaminan untuk menciptakan bangsa yang besar melalui jalur pembangunan. Apalagi kalau kita berpikir pada kenyataan dan semboyan yang selalu didengungkan, bhineka tunggal ika. Semua itu tampaknya bersumber dari satu saja, kualitas. Kualitas bangsa dan masyarakat kita masih rendah untuk bisa menciptakan bangsa yang besar. Setidaknya adil dan makmur.

Kualitas dan kuantitas yang tidak seimbang juga menjadikan mentalitas rakyat kita rendah, tidak seperti yang diharapkan. Mentalitas yang diharapkan itu yakni mentalitas manusia pembangunan. Satu mentalitas pembangunan yang mampu berorientasi ke masa depan, hemat, teliti, berhasrat untuk melakukan suatu inovasi berorientasi kearah achievement dari suatu karya, berusaha atas kemampuan diri sendiri, berdisiplin murni dan berani bertanggung jawab terhadap berbagai masalah pribadi dan bangsanya.

Tentang mentalitas memang perlu dibedakan pada dua hal. Pertama, konsepsi-konsepsi pandangan dan sikap mental terhadap lingkungan kita, terhadap sistem nilai budaya generasi masa lalu. Kedua, konsepsi –konsepsi pandangan dan sikap mental terhadap mentalitas kita yang timbul ke sebelah revolusi adalah sifat yang bersumber pada keragu-raguan dan tanpa pedoman yang suka meremehkan mutu, sifat mentalitas suka menerabas , tidak percaya pada diri sendiri, tidak berdisiplin murni, suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh. Orientasi pembangunan seperti itulah yang mesti kita musnahkan dan kita perbaiki.

Karena bangsa Indonesia adalah heterogen, kadangkala juga masyarakat kita terlalu bersikap primordial terhadap pembangunan bangsa kita. Dengan demikian, di perkotaan mauapun pedaerahan pada umumnya lahir para penduduk primordial. Kita tahu bahwa pembangunan bangsa memerlukan orang-orang yang memiliki satu mentalitas pembangunan yang tidak terlalu mengagungkan sikap primordialisasi.

Tampaknya, kita perlu segera menyeimbangkan atau mengidealkan kualitas dan kuantitas masyarakat kita dengan jalan menekan kuantitas dan meningkatkan kualitas yang rendah agar ada titik temu yang seimbang menuju masa tinggal landas. Faktor budaya tradisi, kepercayaan tradisional bangsa kita lambat laun diakumulasikan ke dalam asset pembangunan bangsa Indonesia di samping berbagai upaya nyata yang telah dilakukan bangsa kita. Pembangunan bisa tercapai dengan mengurangi kesalahan dan menyikapi unsur-unsur primordial yang berakar pada masyarakat kita.

Tinggalkan komentar

Kritik dan Saran

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: